Jakarta, landbank.co.id– Konflik di Timur Tengah dinilai dapat menggerogoti potensi devisa pariwisata yang dikumpulkan Indonesia pada 2026.
Konflik itu melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Perang tak terhindarkan. Bahkan, menyebabkan gangguan penerbangan sipil sehingga diprediksi memangkas potensi devisa pariwisata.
Dampak konflik Timur Tengah dan imbasnya terhadap potensi devisa pariwisata menjadi salah satu aspek yang mencuat dalam rapat kerja (raker) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama Komisi VII DPR RI, di Jakarta, Rabu 1 April 2026.
Dalam raker yang dipimpin oleh Ketua Komisi VII DPR, Saleh P Daulay itu Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan rencana kerja Kementerian Pariwisata tahun 2026.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga kinerja sektor pariwisata tetap solid, meskipun menghadapi tantangan global yang dinamis.
Baca juga: Daftar Lengkap Karisma Even Nusantara 2026
Dalam paparannya, Menteri Pariwisata menjelaskan bahwa program prioritas Kemenpar tahun 2026 diarahkan pada penguatan pariwisata berkualitas yang aman, berkelanjutan, dan berdampak pada ekonomi masyarakat. Salah satu fokus utama adalah peningkatan keselamatan berwisata melalui pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi bagi pemandu wisata, penyusunan pedoman keselamatan destinasi, hingga pemetaan kawasan wisata rawan bencana.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat pengembangan lebih dari 6.200 desa wisata melalui pendampingan masyarakat, sertifikasi desa wisata, serta penguatan jejaring ekonomi lokal berbasis pariwisata.
Pariwisata berkualitas akan terus diperkuat dengan terus melanjutkan program Wonderful Indonesia Gastronomi, Wonderful Indonesia Wellness, Event by Indonesia dan pengembangan digitalisasi pariwisata Indonesia melalui program Torism 5.0 yang sudah dimulai sejak tahun 2025.
Mitigasi Pariwisata
Di tengah upaya penguatan program tersebut, sektor pariwisata global saat ini menghadapi dampak dari konflik di Timur Tengah. Penutupan wilayah udara Iran pada periode 28 Februari hingga 28 Maret 2026 menyebabkan gangguan penerbangan dari enam hub utama penerbangan internasional—Abu Dhabi, Doha, Dubai, Jeddah, Madinah, dan Muscat—yang berkontribusi pada pembatalan sekitar 770 penerbangan menuju Jakarta, Bali, dan Medan.
Baca juga: Kemenpar Mitigasi Dampak Perang Iran Melawan AS-Israel
Situasi ini diperkirakan menyebabkan potensi kehilangan sekitar 60 ribu kunjungan wisatawan mancanegara dengan potensi devisa yang tidak terealisasi mencapai sekitar Rp2,04 triliun.





