Site icon Landbank.co.id

Apersi: Punya Rumah, Martabat Meningkat

Ketua Umum DPP Apersi Junaidi Abdillah menyatakan rumah menjadi indikator kesejahteraan, bahkan, punya rumah, martabat meningkat/foto: apersi

Jakarta, landbank.co.id– Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah menyatakan bahwa rumah menjadi indikator kesejahteraan warga.

“Bahkan, kalau kita punya rumah, martabat akan meningkat,” tegas Junaidi Abdillah dalam sambutan Akad KPR BTN Gojek Punya Rumah di Perumahan Logam Bangun Setia 2, Bekasi, Kamis, 28 Agustus 2025.

Perumahan Logam Bangun Setia 2 yang terletak di Bekasi, Jawa Barat merupakan besutan pengembang Imanan Holding.

Di hadapan para pengemudi ojek online (ojol), Junaidi juga menyatakan bahwa rumah adalah tempat pembentuk karakter yang baik bagi keluarga, khususnya terhadap anak-anak.

Baca juga: Kementerian PKP Dukung RTO Rumah Subsidi Apersi

“Membentuk keluarga yang baik berangkat dari rumah. Rumah memengaruhi masa depan anak-anak kita,” tutur Junaidi.

Dia mengapresiasi tekad dan kerja keras pengemudi ojol yang hari ini melaksanakan akad kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi.

Acara Akad KPR kali ini dihadiri sejumlah kalangan antara lain Owner Imanan Holding Firman Budiman, perwakilan manajemen Gojek Indonesia Muhammad Chairil, dan Kepala Divisi Subsidized Mortgage PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Dedi Lesmana.

“Akad ini terselenggara berkat dukungan BTN, bank yang peduli kepada rakyat, mulai dari pengemudi ojol hingga tukang bakso, serta tentu saja atas dukungan dari Imanan Holding selaku pengembang,” tutur Junaidi.

Baca juga: Apersi Kritik Program 3 Juta Rumah: “Blueprint Masih Tidak Jelas, Arahnya Belum Terlihat”

Sosialisasi RTO

Sementara itu, Junaidi menerangkan bahwa upaya memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat informal dapat juga melalui skema sewa beli (rent to own/RTO).

“Saat ini, penggodokan aturan skema RTO sudah hampir rampung, yakni sudah 80 persen, tinggal menunggu persetujuan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP),” tutur dia.

Dia menegaskan, skema RTO memungkinkan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah.

Selain itu, mereka yang terkendala SLIK OJK serta kelompok pekerja informal yang dianggap tidak layak mendapat kredit bank.

“Hal yang tidak kalah penting, skema RTO tidak memberatkan APBN kita. Skema ini merupakan kolaborasi dari simpanan pengembang dan investor, serta tentu saja berada di bawah naungan BP Tapera,” jelas Junaidi.

Dia menambahkan, dalam waktu dekat, setelah mendapat persetujuan Menteri PKP, sosialisasi RTO akan digulirkan secara massif kepada masyarakat.

Junaidi menegaskan, program skema RTO dibuat demi membantu MBR untuk mendapatkan hunian idaman secara mudah dan murah, khususnya MBR yang belum berpendapatan tetap,serta mempunyai keterbatasan dana untuk membayar uang muka.

Baca juga: Apersi Optimistis Kuota FLPP 350 Ribu Terealisasi, Asal…

“Tahap awal, para MBR menyewa terlebih dahulu dalam rentang waktu tertentu, misal dua tahun. Dari sebagian cicilan sewa dihimpun sebagai uang muka yang dapat dimanfaatkan ketika beralih ke KPR subsidi,” tutur Junaidi.

Dia menerangkan, skema RTO menyasar kalangan masyarakat yang belum memiliki akses sistem perbankan untuk mendapatkan rumah yang nyaman dan terjangkau.

 

(*)

Exit mobile version