Analis Prediksi Harga Emas XAU/USD Uji Level US$5.086

Harga emas dunia atau XAU/USD berpeluang menguat ke level US$5.086 per ounce, didukung sentimen safe haven dan faktor teknikal./Foto: Istockphoto.

Jakarta, landbank.co.id – Harga emas dunia (XAU/USD) diperkirakan dalam tren bullish pada perdagangan Senin, 9 Februari 2026, meski dibayangi volatilitas pasar global dan penguatan dolar Amerika Serikat.

Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai secara teknikal pergerakan emas masih berada dalam jalur positif. Harga XAU/USD tercatat tetap bertahan di atas indikator Moving Average utama, dengan pola candlestick harian yang menunjukkan dominasi pembeli belum sepenuhnya melemah.

Bacaan Lainnya

“Jika tekanan beli kembali menguat dan harga mampu bertahan di area support, XAU/USD berpeluang melanjutkan kenaikan untuk menguji area resistance di kisaran US$5.086 per ounce,” ujar Andy dalam keterangannya.

Namun demikian, ia mengingatkan potensi koreksi tetap terbuka apabila momentum penguatan gagal dipertahankan.

“Sebaliknya, jika harga gagal menjaga momentumnya, potensi koreksi lanjutan diperkirakan mengarah ke area support terdekat di sekitar US$4.841 per ounce,” tambahnya.

Dari sisi fundamental, harga emas kembali memperoleh dukungan pada awal perdagangan Asia. Minat investor terhadap aset safe haven meningkat seiring memanasnya tensi geopolitik global.

“Harga XAU/USD sempat menguat mendekati level US$5.005 di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya setelah insiden penembakan drone Iran oleh militer Amerika Serikat di wilayah Laut Arab,” jelas Andy.

Meski sentimen geopolitik menopang harga emas, laju penguatan dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan eksternal. Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor penahan, tercermin dari Indeks Dolar AS (DXY) yang berada di level 97,67.

Selain itu, arah kebijakan moneter Federal Reserve turut memengaruhi pergerakan emas. Pasar saat ini memperkirakan peluang penurunan suku bunga The Fed pada Juni 2026 berada di kisaran 46 persen, di tengah pandangan bahwa bank sentral AS masih berpotensi bersikap hawkish.

“Data ekonomi AS yang bervariasi turut meningkatkan volatilitas pasar. Laporan ketenagakerjaan ADP menunjukkan penambahan tenaga kerja yang lebih rendah dari ekspektasi, sementara PMI Jasa AS justru mencatatkan kinerja di atas perkiraan,” tutur Andy.

Menurut Andy Nugraha, kombinasi sentimen teknikal dan fundamental tersebut membuat pergerakan harga emas masih cenderung fluktuatif. Meski demikian, peluang penguatan jangka pendek dinilai tetap terbuka.

“Oleh karena itu, pelaku pasar diimbau untuk tetap disiplin dalam menerapkan strategi perdagangan serta manajemen risiko yang terukur,” pungkasnya.

(*)

Pos terkait