Jakarta, landbank.co.id- Realisasi penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) berskema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) alias KPR FLPP turun sekitar 9,37 persen pada rentang Januari-Oktober 2026 disandingkan dengan periode sama 2025.
Mengutip data Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), per akhir Oktober 2026, realisasi penyaluran KPR FLPP mencapai 194.360 rumah subsidi senilai Rp24,22 triliun.
Sebaliknya, pada periode sama 2025, masih bercokol di posisi 212.574 rumah subsidi dengan nilai KPR FLPP sebesar Rp26,38 triliun.
BACA JUGA:Realisasi FLPP Baru 52,67%, Kemen PKP Genjot Penyaluran Rumah Subsidi
Melemahnya realisasi KPR FLPP sepanjang Januari-Oktober 2026 tak bisa dilepaskan dengan turunnya penyerapan para asosiasi developer terbesar di segmen rumah subsidi.
Sang pemimpin pasar rumah subsidi, Realestat Indonesia (REI) mencatat penurunan realisasi 8,41 persen menjadi 81.788 unit per akhir Oktober 2026.
Begitu juga dengan pemain terbesar kedua, yakni Asosiasi Pengembang Perumahan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi). Asosiasi ini membukukan penurunan lebih besar lagi, yaitu 12,71 persen menjadi 55.315 unit.
BACA JUGA:Market Share Rumah Subsidi REI dan Apersi Turun
Pemain ketiga terbesar, Himpunan Pengembang Perumahan Rakyat (Himperra) juga harus puas mencatat penurunan ke posisi 26.668 unit alias melemah 7,03 persen.
Program KPR FLPP yang digulirkan oleh pemerintah ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Komisioner Bidang Hukum dan Administrasi BP Tapera, Wilson Lie Simatupang, pernah mengatakan bahwa pemerintah menargetkan penyaluran 350 ribu rumah melalui skema FLPP pada 2026.
BACA JUGA:Dua Bank Penyalur KPR FLPP Ini Torehkan Nilai Transaksi Saham Bejibun
Target tersebut meningkat dibandingkan dengan realisasi penyaluran setahun sebelumnya. Wilson, dikutip dari laman BP Tapera, menyatakan bahwa realisasi FLPP secara nasional pada 2025 mencapai sekitar 181 ribu unit rumah.
(*)