Jakarta, landbank.co.id- Hunian sewa di destinasi pariwisata Bali terus menggeliat seiring laju para pekerja, termasuk pekerja lepas (freelance).
Belakangan ini, denyut kebutuhan hunian sewa memiliki rentang waktu sewa yang lebih panjang ketimbang layanan hotel.
Secara geografis, dalam catatan Cove, penyedia hunian co-living modern, tingkat hunian sewa di Denpasar lebih tinggi dibandingkan area lain di Bali.
BACA JUGA:Deretan 11 Properti Hospitality PRISM di Nusa Penida Bali
Di tengah itu semua Cove mulai membuka portofolionya di Bali untuk disewa secara fleksibel (bulanan dan harian) setelah sebelumnya lebih berfokus pada akomodasi wisata harian.
Hasilnya, kata manajemen Cove, pihaknya mencatat kenaikan sebesar 100 persen dalam jumlah kamar yang disewakan secara bulanan sejak awal 2026.
“Cove melihat bahwa pergerakan Gen Z dan Milenial ke Bali kini tidak lagi hanya untuk wisata, namun juga bekerja,” papar Dian Paskalis, country director of Growth and VP of Online Marketing Cove, dikutip Rabu, 23 September 2026.
BACA JUGA:Setelah Surabaya, Cove Merambah Kota Malang
Dia menerangkan, mayoritas dari penghuni bulanan Cove di Bali memilih untuk tinggal selama 1-2 bulan saja, menunjukkan pola kebutuhan yang berkaitan dengan pekerjaan jangka pendek seperti relokasi sementara, proyek, atau pekerjaan freelance.
“Kebutuhan ini sulit untuk dipenuhi oleh hotel harian atau hunian sewa lain yang umumnya membutuhkan kontrak tahunan, dan karenanya kami memutuskan untuk memperluas akses ke co-living bulanan Cove guna mendukung ketersediaan hunian berkualitas di Bali,” tutur Dian.
Penghuni domestik dominan
Sementara itu, meski dikenal sebagai destinasi wisata global, Bali juga menjadi tujuan tinggal bagi warga Indonesia sendiri.
Saat ini penghuni kamar bulanan Cove di Bali didominasi oleh penghuni domestik dengan persentase sebesar 76 persen, jauh lebih besar dibandingkan penghuni asing.
BACA JUGA:GKA Land Gandeng Cove