Like dan Komentar Bisa Picu Rasa Berhak Diistimewakan, Ini Penjelasan Psikolog

Rabu 23-09-2026,11:59 WIB
Reporter : Yetto Ceka
Editor : Yetto Ceka

Jakarta, landbank.co.id - Kebiasaan menerima validasi instan di media sosial berpotensi membuat seseorang mengharapkan perlakuan serupa dalam kehidupan nyata hingga memicu perilaku merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa.

Guru Besar Psikologi Swansea University, Phil Reed Ph.D., menjelaskan fitur seperti tombol suka, komentar, jumlah penonton, dan pengikut memberikan respons cepat yang menciptakan kepuasan instan bagi pengguna.

Menurut Reed, pola tersebut dapat membentuk sistem ganjaran sosial yang kuat sehingga pengguna terbiasa memperoleh pengakuan hanya dalam hitungan detik.

"Hal ini dapat terbawa ke dalam interaksi kehidupan nyata," ungkap Reed, seperti dikutip dari Antara, Rabu (23/9/2026).

Reed juga mengungkapka bahwa, arus umpan balik yang konsisten di media sosial dapat menjadi penguat emosional, terutama bagi individu dengan ciri kepribadian narsistik yang membutuhkan pengakuan sosial.

"Seiring waktu, pengguna yang terbiasa memperoleh pujian digital atas aktivitas sehari-hari dapat mengharapkan tingkat pengakuan yang sama ketika berinteraksi di dunia nyata, baik di lingkungan kerja, kampus, maupun hubungan personal," terangnya.

Lebih lanjut Reed menjelaskan, perbedaan antara ekspektasi yang terbentuk di dunia maya dan realitas kehidupan sehari-hari dapat menciptakan apa yang disebut sebagai frustration gap.

"Kondisi ini menimbulkan jurang frustrasi (frustration gap) ketika interaksi sehari-hari gagal menyamai dunia maya yang serba cepat dan serba instan," kata Reed.

Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi di dunia nyata, kekecewaan dapat berkembang menjadi kemarahan yang berkaitan dengan rasa berhak mendapatkan perlakuan khusus.

Hal tersebut terjadi karena dunia nyata tidak memberikan respons secepat media sosial. Pujian, perhatian, maupun pengakuan di kehidupan sehari-hari membutuhkan proses dan tidak selalu datang ketika seseorang mengharapkannya.

Fitur interaksi di media sosial pada dasarnya dirancang untuk memberikan umpan balik secara cepat. Jumlah like, komentar, penonton, dan pengikut kemudian dapat menjadi indikator popularitas yang terus dipantau pengguna.

Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, pengguna dapat terbiasa menjadikan respons digital sebagai sumber penguatan emosional.

Dalam konteks tertentu, kebiasaan tersebut dapat membuat ekspektasi terhadap pengakuan sosial semakin tinggi. Ketika lingkungan nyata tidak memberikan respons yang sama, muncul potensi frustrasi karena adanya perbedaan antara ekspektasi dan kenyataan.

Cara Mengurangi Dampak Validasi Media Sosial

Untuk mengurangi dampak psikologis tersebut, Reed menyarankan pengguna membangun kesadaran kritis ketika menggunakan media sosial.

Masyarakat diimbau untuk tidak menjadikan visibilitas digital sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan atau penghargaan terhadap diri sendiri.

Pengguna juga perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap proses, kerja nyata, hubungan sosial, serta pencapaian yang tidak selalu mendapatkan pengakuan dalam bentuk like atau komentar.

Selain itu, membangun rasa syukur dan ketangguhan mental dinilai penting di tengah lingkungan digital yang memungkinkan seseorang memperoleh validasi hanya melalui satu klik.

Dengan demikian, media sosial dapat tetap digunakan sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi tanpa menjadikan respons instan dari pengguna lain sebagai tolok ukur utama dalam menilai diri sendiri.

(*)

Kategori :