Jakarta, landbank.co.id- Kawan Lama Group terus mengepakkan sayap bisnis property & hospitality, salah satu dari enam pilar yang dimilikinya.
Di pilar bisnis ini Kawan Lama Group mengusung pusat perbelanjaan modern Living World, Living Plaza, dan Anumana.
Bahkan, sepak terjang Kawan Lama Group dalam pengembangan properti, khususnya pusat perbelanjaan di Indonesia, memincut Hubexo Asia Awards 2026 memasukan perusahaan yang berdiri sejak 1955 itu dalam deretan Top 10 Developers Indonesia.
BACA JUGA:Ada Pameran Alutsista di Living World Kota Wisata
“Pengakuan ini menjadi apresiasi atas perjalanan Kawan Lama Group dalam mengembangkan properti dengan pendekatan yang terus relevan terhadap perubahan kebutuhan masyarakat,” tutur Alim Gunadi Sukanto, group director of Property Business Kawan Lama Group dikutip Sabtu, 19 September 2026.
Khusus Living World, Kawan Lama merintisnya lewat Living World Alam Sutera, Tangerang, Banten, pada 2011 seluas 140.000 meter persegi (m2).
Living World Alam Sutera menjadi salah satu pionir pusat perbelanjaan dengan konsep yang mengintegrasikan area kuliner di lantai dasar sebagai bagian dari pengalaman pengunjung.
BACA JUGA:Ada Pameran Alutsista di Living World Kota Wisata
Pendekatan tersebut mencerminkan sejak awal Living World dikembangkan tidak hanya sebagai destinasi ritel, tetapi sebagai ruang yang memadukan berbagai kebutuhan dan aktivitas masyarakat dalam satu kawasan.
Setelah itu terus bergulir Living World lainnya di Pekanbaru (Riau), Denpasar (Bali), serta dua di Jawa Barat, yakni di Bekasi dan Bogor.
Bahkan, terbetik kabar, Kawan Lama akan membangun Living World di Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), Tangerang, Banten.
Kini, dari lima Living World yang telah ada, Kawan Lama mengoleksi luas areal 695 ribu m2, sedangkan nilai proyek yang dikembangkan sedikitnya Rp3,2 triliun.
BACA JUGA:Kawan Lama Group Pertebal Barisan Living World
Setiap destinasi dikembangkan berdasarkan karakter dan potensi wilayahnya. Living World Denpasar, misalnya, menjadi pusat perbelanjaan terbesar di Bali yang mengangkat kekayaan budaya, seni, dan alam Bali, sekaligus menyediakan ruang bagi komunitas untuk beraktivitas dan berkembang.
“Kami melihat pengembangan properti bukan hanya mengenai membangun sebuah tempat, tetapi bagaimana menciptakan ruang yang dapat memberikan pengalaman, memiliki karakter, dan terus memberikan nilai bagi berbagai pihak dalam jangka Panjang,” kata Alim Gunadi Sukanto.