Hotel dan Restoran Dominasi Investasi Pariwisata

Jumat 11-09-2026,19:00 WIB
Reporter : Edo Rusyanto
Editor : Edo Rusyanto

Jakarta, landbank.co.id- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyatakan bahwa investasi pariwisata didominasi oleh kucuran dana ke sektor hotel dan restoran.

Di sisi lain, kementerian tersebut juga berupaya memeratakan penyebaran investasi pariwisata di seantero Indonesia.

“Saat ini sekitar 76,5 persen investasi pariwisata berada di Jakarta dan Bali, dengan 75 persen di antaranya berupa pembangunan hotel dan restoran. Karenanya kami saat ini melakukan diversifikasi investasi di destinasi prioritas lainnya di luar Bali dan Jakarta,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana dalam forum Monthly Economic Diplomatic Breakfast yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jumat, 11 September 2026.

Pemerataan investasi pariwisata ke berbagai wilayah Indonesia, terutama di luar Jakarta dan Bali dinilai untuk memerluas manfaat ekonomi sektor pariwisata melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

BACA JUGA:Kunjungan Wisman Meningkat, Bisnis Hotel Menggeliat

Menpar Widiyanti menambahkan, realisasi investasi pariwisata Indonesia mencapai rekor Rp73,56 triliun pada 2025.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang yang luas untuk memperluas investasi pariwisata, baik dari sisi wilayah maupun ragam usaha. Pemerintah karena itu secara aktif mengundang investor asing dan mitra internasional, termasuk melalui dukungan KADIN Indonesia, untuk mengarahkan investasi ke 13 Destinasi Prioritas dan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata.

Investasi juga diarahkan pada sektor yang lebih beragam di luar hotel dan restoran, khususnya infrastruktur pendukung aksesibilitas, seperti marina kapal pesiar, serta pengembangan daya tarik wisata baru. 

Diversifikasi tersebut diharapkan dapat membentuk ekosistem pariwisata yang semakin kuat sekaligus membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi daerah.

BACA JUGA:Kepercayaan Investor Hotel Bali Masih Tinggi

“Pemerintah menyediakan berbagai fasilitas kemudahan, mulai dari pengurangan pajak penghasilan (tax allowance), insentif bagi industri padat karya, hingga pembebasan bea masuk untuk peralatan wisata dan yacht,” kata Menpar Widiyanti.

Menpar Widiyanti mengatakan, peluang pemerataan investasi semakin terbuka seiring dengan pergeseran pola perjalanan wisatawan yang tidak lagi hanya berpusat di Jawa dan Bali. Sejumlah destinasi di luar kawasan tersebut menunjukkan pertumbuhan kunjungan yang kuat pada awal 2026.

Kunjungan wisatawan ke Danau Toba, misalnya, tumbuh lebih dari 106 persen, sedangkan Lombok–Gili Tramena meningkat 72,1 persen. Labuan Bajo juga terus menunjukkan pertumbuhan kunjungan dan menjadi salah satu destinasi yang memiliki prospek pengembangan investasi pariwisata.

“Pemerintah memastikan kawasan wisata utama tersebut dalam kondisi aman dan siap menyambut pengunjung di tengah upaya pemulihan pascadampak bencana di wilayah Flores,” kata Menpar Widiyanti.

Menurut Menpar, perkembangan tersebut ditopang oleh kinerja ekonomi pariwisata nasional yang terus menunjukkan tren positif. Kontribusi produk domestik bruto (PDB) pariwisata meningkat dari Rp729,1 triliun pada 2022 menjadi Rp1,14 kuadriliun pada 2025 dan ditargetkan mencapai Rp1,19 kuadriliun pada akhir 2026.

Kategori :