Jakarta, landbank.co.id- Penerapan prinsip pengembangan bangunan hijau (green building) alias pembangunan gedung berkelanjutan terus bergulir.
Kalangan pelaku industri properti beserta ekosistemnya menilai bahwa penerapan prinsip pembangunan gedung berkelanjutan yang rendah emisi merupakan kontribusi konkret terhadap masalah lingkungan.
Sektor properti tak sebatas membangun gedung komersial atau rumah tapak, tapi juga memerhatikan aspek lingkungan yang merupakan tolok ukur penting bagi kehidupan manusia.
BACA JUGA:ACES Siap Rogoh Kocek Rp450 Miliar, Bidik 80 Toko Baru
Menurut Direktur Operasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) atau SIG, Reni Wulandari, pembangunan gedung dan infrastruktur yang berkelanjutan tidak hanya berfokus pada tersedianya standar dan kerangka penilaian green building.
“Tetapi juga memastikan prinsip tersebut diterapkan secara nyata, termasuk melalui pilihan bahan bangunan yang digunakan dalam setiap proyek konstruksi,” kata dia dikutip dari laman SIG.
Dia menegaskan, transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan kolaborasi seluruh rantai nilai, sekaligus ketersediaan solusi bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan proyek.
“SIG mengambil peranan dengan menghadirkan inovasi produk dan solusi rendah emisi yang diproduksi dengan bahan baku dan proses yang ramah lingkungan,” tutur Reni Wulandari.
BACA JUGA:Willson Kalip: Green Building Diferensiasi Penting Gedung Perkantoran
Melalui penerapan prinsip keberlanjutan, SIG menghadirkan produk inovatif dan rendah karbon yang sesuai dengan kebutuhan konstruksi modern.
SIG mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkular untuk menciptakan proses produksi berkelanjutan. Salah satunya diwujudkan dalam penggunaan bahan bakar alternatif yang berasal dari sampah perkotaan yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF), limbah industri dan biomassa, di mana thermal substitution rate (TSR) pabrik-pabrik yang dimiliki oleh SIG mencapai level 25 persen.
SIG juga mengambil langkah aktif dalam upaya transisi energi dengan mengimplementasikan Energi Baru Terbarukan (EBT) di wilayah operasionalnya.
Pengaplikasian solar panel dan optimasi gas panas buang melalui Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) menjadi bagian dari strategi SIG untuk memercepat penurunan emisi karbon.
BACA JUGA:Mengintip Racikan Green Building Perumnas, Hunian TOD Solusi Perkotaan
Proses produksi semen di pabrik-pabrik SIG juga telah menerapkan sistem plant digitalization untuk optimalisasi dan meningkatkan efisiensi biaya produksi di antaranya melalui penggunaan plant optimizer yang telah diimplementasikan di beberapa pabrik dan akan terus diimplementasikan di pabrik-pabrik lain secara komprehensif.