Jakarta, landbank.co.id- Roda Bangun Mandiri (RBM) menilai bahwa kebutuhan di dalam proyek bangunan modern semakin kompleks.
Hal itu terutama didorong oleh meningkatnya tuntutan terhadap keamanan, akses, keselamatan, dan efisiensi operasional.
Kondisi tersebut, dalam pandangan perusahaan yang berpengalaman lebih dari 30 tahun ini, mendorong perubahan dalam proses perencanaan, termasuk cara berbagai komponen bangunan dipilih dan diintegrasikan sejak awal proyek.
BACA JUGA:Sebanyak Ini Emiten Properti yang Mampu Mencetak Pertumbuhan Pendapatan
Pendekatan yang hanya berfokus pada pemilihan produk secara terpisah berpotensi membuat kebutuhan antar-komponen tidak sepenuhnya terhubung.
Karena itu, kata manajemen RBM, perencanaan perlu mempertimbangkan bagaimana setiap sistem bekerja sebagai bagian dari keseluruhan bangunan, bukan hanya berdasarkan spesifikasi masing-masing produk.
Menurut Roda Bangun Mandiri, perubahan tersebut membuat system thinking semakin relevan dalam perencanaan sistem bangunan.
BACA JUGA:Adhi Karya Kumpulkan Pemegang Saham, Cek Agendanya
“Dalam proyek modern, kebutuhan tidak berhenti pada produk apa yang digunakan. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap komponen bekerja bersama untuk memenuhi kebutuhan bangunan. Karena itu, kami melihat perencanaan perlu dimulai dari requirement proyek sebelum menentukan sistem dan produk yang tepat,” ujar Bernardus Rizky, chief operational officer (COO) Roda Bangun Mandiri dalam keterangan tertulis, Rabu, 9 September 2026.
Pada sistem pintu, misalnya, kebutuhan proyek dapat mencakup fungsi ruang, intensitas penggunaan, keamanan, keselamatan, hingga kontrol akses.
Faktor-faktor tersebut kemudian perlu diterjemahkan ke dalam kombinasi sistem dan perangkat yang sesuai, sehingga masing-masing komponen dapat berfungsi secara optimal dalam satu kesatuan.
BACA JUGA:BTN Pertahankan Peringkat idAAA, Ini Penopangnya
Pendekatan ini juga mengubah proses diskusi antara penyedia sistem dan tim proyek. Alih-alih hanya membahas spesifikasi produk, pembahasan dapat dimulai dari kebutuhan bangunan dan konteks penggunaannya.
“Kami perlu memahami terlebih dahulu bagaimana sebuah ruang digunakan, siapa penggunanya, serta requirement yang harus dipenuhi,” tutur Bernardus.
Dia menambahkan, dari sana baru dapat ditentukan konfigurasi sistem yang sesuai.