Potret Bisnis Gedung Perkantoran Jakarta Semester Pertama 2026

Selasa 25-08-2026,14:33 WIB
Reporter : Edo Rusyanto
Editor : Edo Rusyanto

Okupansi Gedung

Sementara itu, meskipun tingkat kekosongan masih tinggi, Colliers mencatat rerata okupansi perkantoran di CBD mengalami pertumbuhan dan tercatat sekitar 76 persen per kuartal kedua tahun 2026. 

Gedung premium tetap menunjukkan kinerja yang lebih unggul, dengan okupansi sekitar 83 persen, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap gedung perkantoran berkualitas tinggi. Di sisi lain, perlahan rerata tingkat hunian mulai mendekati 70 persen untuk wilayah diluar CBD.

BACA JUGA:Dupoin Tempati Kantor Baru, Volume Transaksi Diharapkan Kian Berkibar

Tren ini menunjukkan adanya pergeseran dalam prioritas penyewa. Di luar harga dan fleksibilitas sewa, penyewa kini semakin mempertimbangkan faktor kesiapan ruang kerja, aksesibilitas transportasi dan standar ESG. 

Gedung-gedung yang mampu mempercepat proses relokasi dan mendukung keberlangsungan bisnis memiliki posisi yang lebih baik dalam menarik permintaan.

“Gedung-gedung yang berpotensi pulih lebih cepat adalah gedung yang menawarkan struktur sewa yang fleksibel, ruang siap pakai, kemudahan akses transportasi publik, serta kredensial keberlanjutan,” ujar Ferry Salanto.

Sisi pasok juga mendukung stabilisasi kondisi pasar perkantoran di Jakarta. Dengan tidak adanya gedung baru yang selesai dibangun total pasokan perkantoran di kawasan CBD tetap berada di kisaran 7,4 juta meter persegi pada kuartal kedua 2026. 

Terbatasnya pasokan baru di CBD dalam beberapa tahun ke depan diharapkan dapat memberikan kesempatan yang lebih besar bagi pasar untuk menyerap ruang kosong yang tersedia.

BACA JUGA:Potret Okupansi Gedung Perkantoran di Jalur Transportasi

Permintaan ruang perkantoran di Jakarta diperkirakan terus meningkat hingga akhir 2026, terutama didukung oleh permintaan dari sektor logistik, energi, fintech, baik perusahaan lokal dan asing. 

Namun, mengutip data Colliers Indonesia, kondisi pasar yang masih menguntungkan penyewa, pemulihan ke depan perlu menghadirkan fleksibilitas, aksesibilitas, keberlanjutan, dan efisiensi total biaya okupansi untuk lebih banyak menarik minat penyewa.

 

(*)

 

Kategori :