Jakarta, landbank.id - PT Era Graharealty Tbk (IPAC) atau ERA Indonesia mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 8 persen sepanjang semester pertama 2026 disandingkan dengan periode sama 2025.
Sepanjang enam bulan pertama 2026, mengutip laporan keuangan PT Era Graharealty Tbk, broker properti ini mengoleksi pendapatan sekitar Rp27,53 miliar.
Pada periode sama 2025, emiten berkode saham IPAC di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini membungkus pendapatan sekitar Rp25,82 miliar.
Mengutip laporan keuangan Perseroan, pendapatan terbesar IPAC berasal dari komisi, yakni sekitar Rp21,75 miliar atau setara sekitar 79 persen dari total pendapatan semester pertama 2026.
Penyumbang kedua terbesar emiten yang melantai di BEI sejak 2021 ini adalah pendapatan marketing and technical fee (MTF), yaitu sekitar Rp4,52 miliar atau menyumbang sekitar 18 persen.
BACA JUGA:Laba Bersih Era Graharealty Melejit
Sumber pemasukan lain IPAC sepanjang semester pertama 2026 datang dari royalti, waralaba, serta pendapatan lain-lain.
“Tahun ini kami berharap bisa meningkatkan pendapatan 25 persen dari pencapaian tahun lalu.
Sampai enam bulan pertama ini kita masih berada dalam koridor yang sehat, perusahaan punya target naik 25 persen,” tutur manajemen IPAC dalam paparan publik, belum lama ini.
Tapi, tambah manajemen IPAC, enam bulan ke depan pihaknya melihat masih banyak tantangan yang harus dihadapi dimana situasi saat ini sangat tidak kondusif dengan perubahan-perubahan geopolitik maupun dengan situasi politik di dalam negeri.
Di sisi lain, untuk periode Januari-Juni 2026, IPAC mencatat rugi bersih sekitar Rp1,41 miliar, sedangkan pada periode sama 2025, rugi bersih IPAC sekitar Rp1,22 miliar.
BACA JUGA:AREBI Gelar Halal Bihalal 2025, Bahas Sertifikasi Broker dan Dampak Perang Dagang terhadap Properti
Sementara itu, jumlah aset perusahaan yang didirikan pada 1992 ini tercatat sekitar Rp53,93 miliar per akhir Juni 2026, sedangkan pada akhir Desember 2025 masih bertengger di posisi Rp55,16 miliar.
Di sisi liabilitas, per akhir Juni 2026, IPAC mengoleksi sebesar Rp14,95 miliar, sedangkan pada akhir Desember 2025 senilai Rp14,57 miliar.
Ekuitas IPAC per akhir Juni 2026 sekitar Rp38,98 miliar, sedangkan pada akhir Desember 2025 tercatat masih di level Rp40,59 miliar.
Tersebar di Kota Besar
Mengutip materi paparan publik Perseroan, IPAC adalah pemegang Master Franchise ERA untuk seluruh wilayah Indonesia, resmi beroperasi sejak 8 Mei 1992.
ERA merupakan pelopor broker properti di Indonesia dengan sistem franchise internasional yang berasal dari Amerika Serikat.
Selama lebih dari tiga dekade, ERA telah membentuk dan memprofesionalkan industri jasa Broker Properti di Indonesia.
BACA JUGA:Penjualan Rumah Turun, Ini Tantangannya
ERA Indonesia merupakan bagian dari ERA Asia Pasifik yang meliputi 17 Negara dengan 590 kantor franchisee dan 24.740 marketing associate.
Pada 2025, ERA Indonesia mencatat kehadiran yang kuat dengan 104 kantor franchisee dan 4.445 marketing associate yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia.
“Masih ada beberapa kota besar yang belum kita masuko. Tahun 2026 menjadi kesempatan bagi kami untuk mencari partner yang tepat untuk membuka kantor-kantor di luar kota,” kata manajemen IPAC.
Masih mengutip paparan publik Perseroan, penambahan kantor franchisee akan dilakukan dengan beberapa cara seperti konversi brand lain terutama brand lokal ke brand ERA.
Selain itu, dengan cara penawaran untuk buka branch office kepada Top 15 Franchisee.
BACA JUGA:Tradisi Penjualan Rumah Kuartal Pertama Jabodebek Banten, Omzet Rp2 Triliun
Dalam bagian rencana strategis Perseroan, broker properti ini juga mencoba masuk ke kota-kota besar di Indonesia seperti Batam, Bali, dan Palembang.
Per akhir Juni 2026, para pemegang saham IPAC terdiri atas APAC Investments 2 Pte Ltd sebesar 90,60 persen dan masyarakat 9,40 persen.
(*)