Jakarta, landbank.id - PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) membukukan pertumbuhan pendapatan tanah kawasan industri dan lainnya sekitar 101 persen sepanjang Januari-Juni 2026 disandingkan dengan periode sama 2026.
Mengutip laporan keuangan Perseroan, pada enam bulan pertama 2026, pendapatan tanah kawasan industri dan lainnya emiten berkode saham AKRA di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu sekitar Rp1,71 triliun.
Sebaiknya, pada semester pertama 2025, pendapatan AKRA dari segmen tanah kawasan industri dan lainnya tercatat sekitar Rp848,60 miliar.
Pada semester pertama 2026, pendapatan segmen kawasan industri mencakup penjualan tanah kawasan industri sekitar Rp1,29 triliun serta pendapatan dari listrik dan utilitas lainnya sekitar Rp426,53 miliar.
BACA JUGA:Kuartal Pertama 2026, Penjualan Tanah Kawasan Industri AKRA Melejit
Segmen kawasan industri menyumbang sekitar 6 persen terhadap total pendapatan AKRA pada periode enam bulan pertama tahun 2026.
AKRA melakoni bisnis kawasan industri melalui PT Usaha Era Pratama Nusantara (UEPN) yang 99,99 persen sahamnya dimiliki oleh perseroan.
Hal itu dimungkinkan mengingat UEPN menguasai 60 persen saham PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) yang mengoperasikan Kawasan Industri dan Pelabuhan Terpadu (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur.
Baca juga: Ketegangan Global Potensial Berdampak Terhadap Kawasan Industri
BKMS bekerja sama dengan PT Berlian Jasa Terminal Indonesia yang dikenal sebagai BJTI Port, anak usaha PT Pelindo III.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2021 tanggal 28 Juni 2021 (PP No. 71/2021), Pemerintah Indonesia telah menetapkan lokasi usaha BKMS di Gresik, Jawa Timur sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Masterplan JIIPE mencakup kawasan industri terintegrasi seluas 3.000 hektare (ha) terdiri atas kawasan industri seluas 1.761 ha, kawasan pelabuhan 406 ha serta kawasan residensial dan komersial 800 ha.
Khusus pengembangan kawasan residensial dikembangkan oleh sister company AKRA, yakni PT AKR Land.
Laba Meningkat
Mayoritas pendapatan perusahaan yang didirikan pada 1977 ini masih bersumber dari perdagangan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang menyetor sekitar Rp23,53 triliun.
Segmen perdagangan dan distribusi BBM menyumbang sekitar 77 persen terhadap total pendapatan AKRA untuk periode semester pertama 2026.
Secara keseluruhan, pendapatan AKRA naik sekitar 48 persen dari Rp21,42 triliun pada akhir Juni 2025 menjadi sekitar Rp30,84 triliun per akhir Juni 2026.
Naiknya pendapatan memengaruhi torehan laba bersih AKRA yang tumbuh sekitar 21 persen pada semester pertama 2026 dibandingkan dengan periode sama 2025.
Masih mengutip laporan keuangan Perseroan, laba bersih AKRA pada enam bulan pertama 2026 sebesar Rp1,43 triliun, sedangkan pada periode sama 2025 sekitar Rp1,18 triliun.
BACA JUGA:AKRA Raup Rp1,82 Triliun dari Penjualan Tanah Kawasan Industri
Per akhir Juni 2026, jumlah aset AKRA tercatat sekitar Rp39,30 triliun, sedangkan pada akhir Desember 2025 senilai Rp36,56 triliun.
Peningkatan juta terjadi di lini liabilitas, yakni dari Rp20,95 triliun per akhir 2025 menjadi sebesar Rp22,93 triliun per akhir Juni 2026.
Begitu juga dengan jumlah ekuitas, yakni naik menjadi Rp16,37 triliun per akhir Juni 2026 dari semula Rp15,61 triliun per akhir Desember 2025.
Para pemegang AKRA per akhir Juni 2026 terdiri atas PT Arthakencana Rayatama sebanyak 63,71 persen, Haryanto Adikoesoemo 1,06 persen, Soegianto Adikoesoemo 0,72 persen, dan Jimmy Tandyo 0,24 persen.
Lalu, Mery Sofi sebanyak 0,04 persen, Bambang Soetiono 0,04 persen, Nery Polim 0,01 persen, Suresh Vembu 0,02 persen, Termurti Tiban 0,01 persen, dan masyarakat 32,79 persen.
BACA JUGA:AKRA Bayar Dividen Tunai Pekan Depan
(*)