Rupiah Melemah ke Rp16.855 per Dolar AS, Sentimen Hawkish The Fed Tekan Pasar

Rabu 18-02-2026,13:02 WIB
Reporter : yetto ceka
Editor : yetto ceka

Jakarta, landbank.co.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjadi seiring meningkatnya tekanan global setelah pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 12.50 WIB, rupiah tercatat melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.855 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp16.837 per dolar AS.

Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah penguatan dolar AS yang didorong ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi lebih lama di Amerika Serikat.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu pernyataan hawkish dari pejabat Federal Reserve, yakni Deputi Gubernur Michael Barr dan Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary Daly.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh pernyataan hawkish dari pejabat-pejabat The Fed, Barr dan Daly semalam,” ujar Lukman seperti dikutip dari Antara, Rabu, 18 Februari 2026.

Menurutnya, pasar merespons sinyal bahwa bank sentral AS masih fokus menekan inflasi dan belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga.

Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary Daly, sebelumnya menyampaikan bahwa inflasi di Amerika Serikat masih perlu ditekan lebih lanjut karena belum mencapai target yang diinginkan.

Ia menilai kondisi pasar tenaga kerja masih menunjukkan fluktuasi sehingga kebijakan moneter ketat tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Sementara itu, Deputi Gubernur The Fed, Michael Barr, menegaskan bahwa tingkat suku bunga kemungkinan akan dipertahankan dalam jangka waktu tertentu guna memastikan inflasi benar-benar terkendali.

Mengutip laporan Xinhua, CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas Federal Reserve mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2026 meningkat menjadi 94 persen, naik dari sekitar 80 persen sebelumnya.

Ekspektasi tersebut memperkuat posisi dolar AS di pasar global dan memberi tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari sisi domestik, pelaku pasar juga menantikan hasil rapat kebijakan moneter Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (19/2/2026).

Lukman memperkirakan bank sentral Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

“BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga karena rupiah yang masih tertekan akhir-akhir ini,” ungkapnya.

(*)

Tags :
Kategori :

Terkait